Thursday, 04 June 2026
Kategori
Nasional

Negara Takut Film, Demokrasi Sedang Sekarat

Negara Takut Film, Demokrasi Sedang Sekarat

Oleh: Muhamad Fahri Ardian

Pembubaran pemutaran film Pesta Babi di berbagai daerah belakangan ini bukan lagi sekadar persoalan acara yang dihentikan atau diskusi yang dibatalkan. Ada sesuatu yang jauh lebih besar dan lebih mengkhawatirkan sedang terjadi: negara dan sebagian kelompok masyarakat mulai menunjukkan ketakutan terhadap gagasan, kritik, dan suara-suara yang berbeda.

Saya melihat ironi besar dalam situasi ini. Di satu sisi, kita terus berbicara tentang demokrasi, kebebasan, dan hak warga negara. Tetapi di sisi lain, sebuah film saja bisa dianggap ancaman. Ruang diskusi dibubarkan, pemutaran dipersekusi, dan masyarakat dipaksa percaya bahwa karya seni adalah sesuatu yang berbahaya. Pertanyaannya sederhana: jika sebuah film saja begitu ditakuti, sebenarnya siapa yang sedang merasa terancam?

Film pada dasarnya adalah medium untuk bercerita. Ia bisa menjadi kritik sosial, refleksi sejarah, atau bahkan jeritan kelompok-kelompok yang selama ini tidak pernah diberi ruang bicara. Tidak semua karya harus disukai, tidak semua narasi harus disetujui. Tetapi dalam masyarakat yang sehat, perbedaan pandangan seharusnya dijawab dengan diskusi, bukan pembubaran.

Yang terjadi hari ini justru sebaliknya. Kita semakin sering menyaksikan ruang publik dipenuhi rasa takut. Orang mulai takut berdiskusi, takut memutar film, takut menyampaikan pendapat, bahkan takut berpikir terlalu kritis. Dan ketika rasa takut mulai menjadi budaya, di situlah demokrasi perlahan kehilangan maknanya.

Saya menilai pembubaran film Pesta Babi memperlihatkan bahwa demokrasi kita masih sangat rapuh. Kebebasan berekspresi seolah hanya berlaku selama tidak mengganggu kenyamanan pihak tertentu. Padahal konstitusi dengan jelas menjamin hak setiap warga negara untuk menyampaikan pendapat dan berekspresi.

Ironisnya lagi, pembungkaman sering dibungkus dengan alasan menjaga ketertiban, menjaga moral, atau menjaga stabilitas. Padahal sejarah menunjukkan bahwa bangsa yang terlalu takut terhadap kritik biasanya sedang mengalami krisis kedewasaan dalam berdemokrasi.

Kita perlu sadar bahwa karya seni tidak pernah lahir dari ruang kosong. Film, musik, teater, hingga sastra selalu menjadi cara masyarakat membaca kenyataan di sekitarnya. Ketika karya dibungkam sebelum dipahami, maka yang sebenarnya sedang dibunuh bukan hanya filmnya, tetapi juga ruang berpikir masyarakat itu sendiri.

Saya percaya bahwa bangsa yang besar bukan bangsa yang anti kritik. Bangsa yang besar adalah bangsa yang berani mendengar hal-hal yang tidak nyaman, lalu menjawabnya dengan argumentasi dan kedewasaan, bukan dengan tekanan dan intimidasi.

Karena itu, pembubaran pemutaran film Pesta Babi harus dilihat sebagai alarm serius bagi kehidupan demokrasi kita. Sebab ketika karya seni mulai dibungkam, biasanya yang akan menyusul setelahnya adalah diskusi kampus, mimbar akademik, gerakan mahasiswa, hingga suara rakyat biasa yang dianggap terlalu kritis. Dan jika keadaan ini terus dibiarkan, maka demokrasi di negeri ini mungkin masih hidup secara nama, tetapi perlahan mati dalam praktiknya.